PAMEKASAN – Di tengah pelaksanaan TMMD ke-130 yang dilakukan oleh Kodim 0826/Pamekasan di Desa Jarin, Kecamatan Pademawu, terlihat situasi yang menarik perhatian. Prada Egi, seorang anggota Satgas dari Batalyon Teritorial Pembangunan 539 Pamekasan yang berasal dari Kalimantan Utara, nampak dengan lancar mengaduk semen sambil menyapa penduduk setempat menggunakan bahasa Madura.

Di minggu pertama penyelenggaraan, ia hanya dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dan mengalami kesulitan saat berinteraksi dengan penduduk Dusun Kotalon yang lebih terbiasa menggunakan bahasa Madura. Namun, ia kini sudah menguasai beberapa kosakata dasar yang ia catat dengan rapi di buku saku, seperti Mator Sakalangkong yang berarti Terima Kasih, dan beberapa istilah lain yang memudahkan dirinya berkomunikasi.

Pengalaman yang dialami oleh Prada Egi ini menjadi gambaran dari tujuan utama program TMMD. Program ini diluncurkan pada tahun 1980 dengan inisiatif ABRI Masuk Desa (AMD), di mana Panglima ABRI saat itu, Jenderal M. Jusuf, menekankan bahwa AMD tidak hanya berfungsi sebagai pembangunan fisik seperti jalan dan jembatan, tetapi lebih jauh untuk mendekatkan TNI dan masyarakat melalui partisipasi bersama.

Ada tiga tujuan utama dari program ini. Pertama adalah memperkuat pertahanan, di mana interaksi prajurit dengan masyarakat, termasuk tak kenal bahasa lokal, menciptakan ikatan antara TNI dan rakyat. Kedua, fokus pada aspek sosial dengan menjunjung gotong royong, di mana TNI dan warga bekerja secara langsung, dan ketiga adalah pemerataan pembangunan yang menargetkan desa-desa tertinggal seperti Desa Jarin agar tidak hanya berpusat di kawasan kota. Bagi Prada Egi, aktivitas TMMD merupakan pengalaman belajar yang sangat berharga.